Badminton World Federation (BWF) berencana mengadopsi format baru turnamen yang akan berlangsung selama 11 hari, dimulai pada tahun 2027. Perubahan ini akan diterapkan pada ajang level Super 1000, termasuk turnamen bergengsi seperti Indonesia Open dan All England.
Perubahan Format dan Dampaknya bagi Atlet
Format baru ini tidak hanya mengubah durasi turnamen, tetapi juga struktur kompetisi. Sektor tunggal akan diikuti oleh 48 pemain, yang akan memulai kompetisi dari fase grup sebelum melaju ke babak gugur. Sementara itu, nomor ganda akan diikuti oleh 32 pasangan yang akan berkompetisi dalam sistem gugur.
Tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, memberikan pandangannya mengenai kebijakan ini. Ia menilai bahwa format 11 hari memiliki kelebihan dan kekurangan. “11 hari pasti lebih bosan sebenarnya tapi ketika balik main lagi pasti lebih fit. Sebenarnya plus minus saya rasa,” ujar Alwi kepada pewarta di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur.
Sebagai seorang atlet, Alwi menyadari pentingnya adaptasi terhadap setiap kebijakan yang ditetapkan oleh federasi. “Ya, saya sebagai atlet harus bisa menyesuaikan apa yang sudah ditetapkan. Jadi enggak ada pilihan lain selain memaksimalkan apapun kondisinya,” tegas juara Indonesia Masters 2026 tersebut.
Dukungan dari PBSI
Kabid Luar Negeri PP PBSI, Bambang Roedyanto, turut memberikan pandangan positif terhadap format baru ini. Menurutnya, perubahan durasi turnamen akan memberikan nilai tambah bagi atlet, terutama dalam hal waktu istirahat yang lebih memadai.
“Dengan durasi turnamen yang lebih panjang serta hanya menggunakan dua lapangan pertandingan, atlet memiliki waktu istirahat yang lebih memadai. Hal ini diharapkan dapat menjaga kualitas permainan dan performa atlet sepanjang turnamen,” jelas Bambang melalui keterangan tertulis federasi.






