Saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), emiten yang bergerak di sektor pengolahan sarang burung walet, mencatatkan lonjakan harga yang fenomenal, melonjak hingga 1.810,17% sejak penawaran umum perdana (IPO) pada 8 Desember 2025. Kenaikan drastis ini berhasil memecahkan rekor di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) sebanyak 17 kali berturut-turut.
Pergerakan harga yang sangat agresif ini memicu perhatian serius dari otoritas bursa. BEI telah resmi mengeluarkan peringatan Aktivitas Transaksi Tidak Wajar atau Unusual Market Activity (UMA) pada 15 Desember 2025, menyerukan para investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi terkait saham RLCO.
Fenomena Lonjakan Harga RLCO
Sejak pertama kali melantai di BEI pada 8 Desember 2025 dengan harga IPO Rp 168 per saham, RLCO langsung menjadi primadona pasar. Harga sahamnya terus meroket, bahkan sempat mencapai Rp 1.940 pada 2 Januari 2026, yang berarti kenaikan lebih dari 1.000% dalam waktu kurang dari sebulan. Per 9 Januari 2026, harga saham RLCO tercatat Rp 3.210, melonjak 24,90% dalam 24 jam terakhir dan mencatatkan kenaikan 1.040% dalam sebulan terakhir, serta 1.810% dalam setahun terakhir, menegaskan momentum kenaikan yang luar biasa.
Kenaikan harga saham RLCO yang menyentuh batas ARA secara beruntun selama 17 hari merupakan sejarah baru di pasar modal Indonesia, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh emiten lain. Auto Reject Atas (ARA) adalah mekanisme yang diterapkan BEI untuk membatasi kenaikan harga saham dalam satu hari perdagangan guna menjaga stabilitas pasar dan melindungi investor dari lonjakan harga yang ekstrem.
Di Balik Peringatan UMA Bursa
Melihat volatilitas harga yang tidak biasa, Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono, pada 15 Desember 2025, mengonfirmasi bahwa saham RLCO telah masuk dalam radar pengawasan UMA. Meskipun penetapan status UMA bukan vonis pelanggaran hukum, langkah ini bertujuan untuk memastikan perdagangan saham berjalan wajar dan teratur.
Bursa secara aktif mencermati perkembangan pola transaksi saham RLCO dan meminta investor untuk memperhatikan jawaban perusahaan terkait konfirmasi bursa, mencermati kinerja dan keterbukaan informasinya, serta mengkaji kembali rencana aksi korporasi yang belum mendapatkan persetujuan RUPS. Peringatan ini menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar untuk melakukan uji tuntas (due diligence) sebelum bertransaksi.
Fundamental Kuat dan Ambisi Ekspansi
Lonjakan harga RLCO tidak semata-mata didorong oleh euforia pasar. Perusahaan ini melaporkan kinerja keuangan awal yang mengesankan. Per 31 Mei 2025, RLCO membukukan peningkatan penjualan sebesar 47,55% secara tahunan (YoY), dengan laba bersih melonjak hingga 608% YoY, mencapai Rp 12,33 miliar. Kinerja positif ini didukung oleh strategi ekspansi yang jelas, di mana dana IPO dialokasikan untuk mengamankan pasokan bahan baku dan meningkatkan kapasitas produksi.
Antusiasme investor terhadap IPO RLCO juga terlihat dari tingkat kelebihan permintaan (oversubscribed) yang mencapai 948 kali, menjadikannya salah satu IPO dengan tingkat permintaan tertinggi sepanjang sejarah BEI. Dengan dana segar IPO sebesar Rp 105 miliar, RLCO berencana memperluas pasar ekspor ke Vietnam, Thailand, dan Amerika Serikat, menandai transformasi bisnis dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen barang konsumsi bernilai tambah.
Profil Perusahaan dan Manajemen Muda
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), yang didirikan pada 11 Agustus 2014, berfokus pada pengolahan dan pencucian sarang burung walet, serta perdagangan produk kesehatan melalui entitas anak. Produk utamanya mencakup sarang burung walet kering, minuman siap saji, makanan siap saji, dan minuman bubuk untuk tujuan kesehatan dan kecantikan.
Salah satu aspek menarik dari RLCO adalah jajaran manajemennya yang didominasi oleh generasi muda. Direktur Utama Edwin Pranata, yang juga menjadi pengendali perusahaan, berusia 34 tahun. Dua direktur lainnya, Witny Widjaja dan Ayu Amanda, masing-masing berusia 34 dan 35 tahun, menunjukkan dinamisme dalam kepemimpinan perusahaan.
Keseimbangan antara Potensi dan Risiko
Fenomena lonjakan saham RLCO mencerminkan optimisme investor terhadap prospek bisnis pengolahan sarang walet yang tahan banting di tengah gejolak ekonomi, terutama di sektor kesehatan dan barang konsumsi. Namun, kenaikan harga yang sangat cepat juga menimbulkan kekhawatiran akan valuasi yang mungkin telah melampaui nilai intrinsik perusahaan, didorong oleh faktor teknikal dan euforia spekulatif.
Investor disarankan untuk terus melakukan analisis mendalam terhadap fundamental perusahaan, mempertimbangkan rasio valuasi seperti Price-to-Earnings (P/E) dan Price-to-Book Value (PBV) pasca-lonjakan harga, serta menunggu stabilisasi harga sebelum membuat keputusan investasi yang signifikan. Keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan risiko spekulatif menjadi kunci dalam menyikapi pergerakan saham RLCO.





