Pergerakan saham emiten pertambangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menunjukkan dinamika tinggi pada perdagangan sesi pertama hari ini, Selasa (6/1/2026). Sempat tertekan di awal pembukaan pasar, saham milik konglomerasi Grup Bakrie dan Salim ini berhasil membalikkan keadaan (rebound) ke zona hijau dengan aktivitas transaksi yang sangat masif.
Hingga pukul 09.41 WIB, saham BUMI sempat menyentuh level Rp474 atau menguat 2,16 persen. Antusiasme pasar terlihat dari volume perdagangan yang mencapai 3,65 miliar saham dengan frekuensi 114.429 kali, mencatatkan nilai transaksi total sebesar Rp1,71 triliun. Meskipun pada pukul 10.02 WIB harga sedikit terkoreksi ke Rp466, tren penguatan masih mendominasi pergerakan intraday.
Aksi Borong dan Target Harga
Kenaikan harga ini ditopang oleh akumulasi beli yang signifikan dari para investor. Berdasarkan data dari aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BUMI mencatatkan pembelian bersih (net buy) senilai Rp111,3 miliar. Momentum ini direspons positif oleh sejumlah analis sekuritas. Kiwoom Sekuritas dalam risetnya hari ini menetapkan target harga pertama di level 474 dan target kedua yang lebih optimis di level 505.
Senada dengan itu, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai pergerakan saham BUMI masih berada dalam tren bullish atau penguatan. Analisis teknikal BRIDS menunjukkan saham ini telah membentuk higher high dan berpotensi menguji level resistensi terdekat di kisaran 480. Phintraco Sekuritas bahkan memasang target ketiga di angka psikologis 500.
Sentimen Diversifikasi Bisnis
Penguatan fundamental juga menjadi sorotan utama. BRIDS menyebutkan bahwa aksi korporasi BUMI melalui rights issue yang meningkatkan kepemilikan saham di Jubilee Metals Limited (JML) menjadi 64,98 persen adalah langkah strategis. Hal ini memperluas portofolio bisnis perseroan di luar batu bara.
Terkait hal tersebut, pengamat pasar modal dan pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, memberikan pandangannya mengenai pergeseran fokus bisnis BUMI.
“BUMI kini tidak lagi bergantung pada batu bara saja, tapi ekspansi ke sektor emas dan tembaga membuat prospek jangka menengah terlihat lebih menarik,” ujar Hendra.
Dari pernyataan itu, ditegaskan bahwa diversifikasi ke mineral logam menjadi katalis positif bagi valuasi jangka menengah emiten. Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa target harga 500 adalah skenario optimis yang tetap memerlukan kewaspadaan terhadap volatilitas pasar.
“Tetap ingat, saham berpotensi cuan besar, tapi volatilitasnya juga tinggi. Selalu kelola risiko dan sesuaikan dengan profil investasimu,” pungkasnya.





