Badminton

PB PI Rekrut Pelatih Padel dari Spanyol dan Jerman untuk Asian Games 2026

Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PB PI) akan segera merekrut dua pelatih asing asal Spanyol dan Jerman untuk memperkuat Tim Nasional Padel Indonesia. Rencananya, pengumuman resmi akan dilakukan pada awal Maret mendatang.

Persiapan Menuju Asian Games dan Kualifikasi Piala Dunia

Ketua Umum PB PI, Galih Kartasasmita, menyatakan bahwa proses penandatanganan kontrak dengan kedua pelatih tersebut tengah berjalan dan ditargetkan selesai bulan ini. “Insya Allah kalau semuanya berjalan lancar, bulan ini kami sudah tanda tangan kontrak. Insya Allah,” ujar Galih saat ditemui di kawasan Jakarta Utara, Minggu (15/2/2026).

Ia menambahkan, “Saya akan umumkan Maret awal ya. Ini kan lagi kontraknya lagi dibikin dan mereka sudah datang ke sini untuk melihat atlet-atletnya, tinggal nanti tektokan.”

Langkah rekrutmen pelatih baru ini merupakan bagian dari persiapan intensif PB PI untuk menghadapi ajang bergengsi Asian Games di Aichi-Nagoya, Jepang, yang akan diselenggarakan pada 19 September hingga 4 Oktober 2026. Padel sendiri akan menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan dalam pesta olahraga terbesar di Asia tersebut.

“Makanya saya mempersiapkan pelatih Timnas yang baru untuk memperaiapkan ke Asian Games dan Kualifikasi Piala Dunia tahun ini,” jelas Galih. Ia merinci, akan ada dua pelatih yang direkrut. Satu pelatih akan berperan sebagai adviser PB PI yang memberikan masukan program, sementara pelatih lainnya akan fokus menangani Timnas padel.

Track Record dan Kurikulum Pelatih Asing

Galih membeberkan alasan di balik pemilihan pelatih dari Jerman dan Spanyol, meskipun identitas mereka belum diungkapkan. Salah satu pertimbangan utama adalah rekam jejak mereka yang mumpuni sebagai pelatih tim nasional negara lain. “Pertama mereka sudah dua kali pegang Timnas negara lain yaitu Jerman dan Arab Saudi,” ungkap Galih.

Selain itu, kedua calon pelatih ini juga mengelola akademi padel besar di Majorca, Spanyol, dan memiliki pengalaman melatih atlet usia muda kelas dunia. Mereka juga diklaim telah berhasil memproduksi sejumlah pemain padel top di Spanyol.

Lebih lanjut, Galih menilai kurikulum yang dimiliki kedua pelatih tersebut sangat relevan dengan standar Federasi Internasional Padel (FIP) Spanyol. “Kurikulum mereka 95 persen mirip dengan kurikulum FIP (Federasi Internasional Padel) Spanyol. Jadi kami lebih tenang karena saya ingin memperbaiki tekniknya anak-anak,” tuturnya.

Ia menyoroti pentingnya perbaikan teknik bagi para atlet padel Indonesia. “Kita melihat Bea (Beatrice Gumulya), Novela (Rezha), si kembar Ana (Fitriana Sabrina), Ani (Fitriani Sabatini), mainnya luar biasa. Tapi tekniknya belum secara teknis padel. Antara karena tenis, atau otodidak belajar. Nah saya perlu orang yang betul-betul menstrukturkan tekniknya,” jelas Galih.

Galih juga menekankan perlunya peningkatan taktik permainan. “Lalu memberikan taktiknya. Karena itu yang kita tak punya. Walaupun kita berangkat dan pulang bawa perunggu (di Piala Asia 2025) tapi secara teknik, kita bukan teknik padel.”

Ia mengakui bahwa perkembangan olahraga padel di Indonesia masih tergolong baru. “Indonesia baru main padel 2021 dan kami baru jadi 2024. Jadi pemain-pemain ini (dari) tenis. Nah, bagaimana caranya memperbaiki stuktur teknis, ya kami butuh orang untuk membetulkannya,” tegas Galih.