Berita

Misteri Kematian Wakil Bupati Sangihe Helmud Hontong Viral di Media Sosial

IHWAL.ID – Kematian Wakil Bupati Kepulauan Sangihe, Helmud Hontong, yang terjadi pada 9 Juni 2021 silam kembali menjadi perbincangan hangat publik di jagat maya pada pertengahan Desember 2025 ini. Sosok yang dikenal sangat vokal dalam menolak izin operasional PT Tambang Mas Sangihe (TMS) ini meninggal dunia secara mendadak saat berada dalam penerbangan Lion Air rute Denpasar-Makassar, sebuah peristiwa yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya bagi sebagian masyarakat terkait kaitan antara kematiannya dengan sikap tegasnya menentang aktivitas pertambangan.

Kronologi Tragis di Udara

Peristiwa memilukan tersebut bermula ketika Helmud Hontong sedang dalam perjalanan udara dari Bali menuju Manado via Makassar. Sekitar 20 menit setelah pesawat lepas landas, Helmud dilaporkan mengeluh pusing kepada ajudannya. Ia sempat meminta bantuan untuk dioleskan minyak kayu putih di bagian tubuhnya sebelum akhirnya kehilangan kesadaran di kursi penumpangnya.

Meskipun sempat mendapatkan pertolongan pertama dari seorang penumpang yang berprofesi sebagai dokter, nyawa Helmud tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia saat masih berada di atas pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-740.

Berdasarkan hasil autopsi resmi yang dirilis pihak berwenang saat itu, penyebab kematiannya disimpulkan akibat komplikasi penyakit kronis yang dideritanya dan bukan karena racun, namun spekulasi publik tetap berkembang liar seiring dengan sikap kritisnya semasa hidup.

Konsesi Tambang yang Ditolak

Semasa menjabat, Helmud Hontong dikenal sebagai pemimpin daerah yang gigih mempertahankan lingkungan Kepulauan Sangihe dari ancaman kerusakan ekologis. Penolakannya terhadap PT Tambang Mas Sangihe didasari oleh luasnya wilayah konsesi yang diberikan oleh Kementerian ESDM, yang mencapai 42 ribu hektare.

Angka tersebut mencakup sekitar 56,9 persen dari total luas wilayah Kabupaten Sangihe, yang dinilai sangat tidak wajar untuk ukuran pulau kecil.

Helmud menilai bahwa aktivitas pertambangan skala besar tersebut berpotensi menimbulkan dampak destruktif bagi lingkungan serta kehidupan sosial masyarakat setempat.

Sebagai bentuk keseriusannya, ia bahkan sempat mengirimkan surat permohonan pembatalan izin tambang secara pribadi kepada Kementerian ESDM sebelum dirinya wafat.

Solidaritas dan Kekecewaan Publik

Isu ini kembali mencuat ke permukaan di tengah sorotan bencana alam banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatra belakangan ini. Akun advokasi lingkungan @SaveSangihe di platform X (sebelumnya Twitter) menyuarakan solidaritasnya, menghubungkan kerusakan alam di berbagai daerah dengan “kerakusan” industri ekstraktif.

“Kami bersolidaritas untuk bencana alam yang terjadi di Sumatera akibat kerakusan berbagai pihak. Kami tidak akan membiarkannya terjadi dimanapun, Dan juga di tanah air kami, Sangihe,”.

Dalam pernyataan lanjutannya, akun tersebut menegaskan penolakan masyarakat untuk menjadi korban bencana ekologis. Mereka menolak “dibunuh pelan-pelan” dan menekankan bahwa kerusakan yang terjadi baik di Sangihe, Papua, maupun Sumatra adalah bentuk eksploitasi yang harus dihilangkan.

Selain itu, kekecewaan mendalam juga disampaikan terkait status hukum pertambangan di Sangihe. Akun @SaveSangihe mengungkapkan fakta ironis mengenai kemenangan rakyat di ranah hukum yang seolah tidak berdampak di lapangan.

“Ini adalah keadaan Pulau Sangihe pada hari ini, pergulatan yang dimenangkan Rakyat di Mahkamah Agung pada tahun 2022 lalu sia-sia. Seharusnya, wilayah Sangihe adalah Pulau kecil yang tidak boleh ditambang tetapi Sangihe Masih terus dihajar oleh perusahaan tambang emas Dari Kanada,”.

Dari pernyataan tersebut, dijelaskan bahwa meskipun Mahkamah Agung telah memenangkan gugatan rakyat pada tahun 2022, aktivitas pertambangan yang melibatkan perusahaan asing masih terus berlangsung dan merusak bentang alam pulau kecil tersebut.

Diskusi mengenai kematian Helmud juga diramaikan oleh akun X @logos_id yang memberikan sentilan tajam terkait pihak-pihak di balik perusahaan tambang tersebut.

“Jangan cari pemegang saham PT Tambang Mas Sangihe yang ditolak oleh wakil bupati ini ya. Jangan,” sentil akun X @logos_id.

Cuitan tersebut seolah menjadi pengingat sarkastis bagi publik untuk terus mengawasi kepentingan korporasi besar di balik izin tambang yang ditolak keras oleh mendiang Helmud.

Berita ini diolah dari beberapa sumber:

  • Rolia Pakpahan. 2025. “Wakil Bupati Sangihe Helmud Hontong Meninggal di Pesawat usai Tolak Pembangunan Tambang Emas”. Diakses dari https://monitorindonesia.com/nasional/read/2025/12/618109/wakil-bupati-sangihe-helmud-hontong-meninggal-di-pesawat-usai-tolak-pembangunan-tambang-emas pada 18 Desember 2025, pukul 08.36 WIB
  • Postingan akun @/SaveSangihe. 2025. Diakses dari https://x.com/SaveSangihe/status/2000190975088734693 pada 18 Desember 2025, pukul 08.37 WIB
  • Lia Putri. 2025. “Misteri Kematian Wakil Bupati Sangihe di Pesawat dan Perlawanannya Terhadap Tambang”. Diakses dari https://www.murianetwork.com/nasional/pr-127251/misteri-kematian-wakil-bupati-sangihe-di-pesawat-dan-perlawanannya-terhadap-tambang pada 18 Desember 2025, pukul 08.38 WIB