Sepakbola

Mark Clattenburg Desak PGMOL Perketat Aturan Sepak Pojok Arsenal yang Ganggu Kiper

London – Mantan wasit Liga Primer Inggris, Mark Clattenburg, mendesak badan pengatur perwasitan (PGMOL) untuk mempertegas aturan terkait taktik sepak pojok yang kerap digunakan Arsenal. Clattenburg menilai aksi menumpuk pemain di dekat kiper lawan saat situasi bola mati tersebut seharusnya dikategorikan sebagai pelanggaran.

Arsenal Unggul dalam Gol Bola Mati

Musim ini, Arsenal menunjukkan efektivitas luar biasa dalam memanfaatkan situasi bola mati. Dikutip dari WhoScored, The Gunners telah mencetak 13 gol dari bola mati, menjadikannya tim tersubur dalam aspek ini di Liga Primer. Sepak pojok menjadi salah satu sumber gol utama bagi tim asuhan Mikel Arteta tersebut.

Dalam pertandingan terakhir Liga Primer melawan Manchester United, Arsenal kembali mencetak gol dari skema sepak pojok. Gol tersebut tercipta melalui kemelut di depan gawang MU, di mana kiper Senne Lammnens kesulitan mengamankan bola akibat banyaknya pemain yang berkerumun di area kotak penalti.

Kritik Terhadap Taktik Arsenal

Strategi Arsenal dalam mengambil sepak pojok, yaitu menempatkan banyak pemain di sekitar kiper lawan, telah menuai kritik. Para pemain Arsenal dinilai sengaja mengganggu pergerakan dan pandangan kiper, sehingga menyulitkan mereka dalam mengantisipasi bola.

Mark Clattenburg, yang pernah memimpin pertandingan di Liga Primer, berpendapat bahwa taktik ini seharusnya dihukum. Ia menyarankan PGMOL untuk mengeluarkan aturan yang lebih tegas, menyatakan bahwa setiap tindakan yang menghalangi pergerakan kiper di area kotak penalti adalah pelanggaran.

“Ini adalah sesuatu yang perlu ditangani oleh PGMOL dan Liga Premier, dan setiap tindakan menghalangi kiper harus dihukum dengan tendangan bebas,” ujar Clattenburg dikutip dari Give Me Sports.

Clattenburg menambahkan bahwa penegakan aturan yang lebih ketat akan memaksa tim untuk menghentikan taktik tersebut. Ia mencontohkan Liga Champions, di mana wasit dinilai lebih tegas dalam menghukum pelanggaran serupa, sehingga taktik tersebut lebih jarang terlihat.

“Ya, lebih banyak pelanggaran akan diberikan pada awalnya, tetapi ketika tim menyadari bahwa mereka tidak akan diizinkan untuk menggunakan taktik ini, mereka akan berhenti. Kita melihat taktik ini lebih jarang digunakan di Liga Champions karena wasit lebih banyak menghukum!,” jelasnya.