Arsenal kembali menunjukkan kelemahan dalam urusan mencetak gol dari permainan terbuka (open play) setelah dibungkam Manchester United 2-3 di Emirates Stadium, Minggu (25/1/2026). Meskipun unggul lebih dulu melalui gol bunuh diri Lisandro Martinez, The Gunners tak mampu mempertahankan momentumnya.
Set-Piece Jadi Senjata Utama, Lini Depan Tumpul
Pertandingan melawan Manchester United menyoroti kembali masalah klasik Arsenal. Tim asuhan Mikel Arteta ini lebih banyak menguasai bola dan melepaskan tembakan, namun hanya empat yang mengarah tepat sasaran. Dua gol Arsenal tercipta dari situasi yang tidak biasa: satu gol bunuh diri lawan dan satu lagi dari sepak pojok yang dieksekusi oleh Mikel Merino.
Catatan 13 gol dari set-piece di Premier League musim ini memang impresif. Namun, hal ini justru menimbulkan kekhawatiran. Arsenal dinilai terlalu bergantung pada bola mati, seolah melupakan pentingnya menajamkan lini serang dari permainan terbuka.
Performa Open Play Arsenal Mengecewakan
Data dari Whoscored menunjukkan bahwa Arsenal baru mencetak 22 gol dari open play di Premier League musim ini. Angka ini menempatkan mereka di peringkat kedelapan dalam daftar tim dengan gol terbanyak dari permainan terbuka.
Performa ini menjadi perhatian serius, terutama menjelang akhir musim di mana tekanan untuk meraih gelar juara semakin meningkat. Ketergantungan pada set-piece bisa menjadi batu sandungan bagi Arsenal dalam perburuan gelar.
MU Berhasil Balikkan Keadaan
Manchester United berhasil membalikkan keadaan melalui gol-gol dari Bryan Mbeumo dan Patrick Dorgu. Meskipun Arsenal sempat menyamakan kedudukan lewat Mikel Merino, Matheus Cunha memastikan kemenangan untuk tim tamu.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Arsenal dalam upaya mereka meraih gelar juara Premier League musim ini. Fokus pada peningkatan efektivitas serangan dari permainan terbuka menjadi agenda krusial bagi Mikel Arteta dan timnya.




