Sepakbola

Arteta Samakan Rivalitas dengan Guardiola Seperti Nadal Vs Federer

Mikel Arteta mengakui adanya perseteruan dengan Pep Guardiola, namun ia menilai rivalitas tersebut sehat, layaknya persaingan antara Rafael Nadal dan Roger Federer di dunia tenis.

Persaingan Guru dan Murid

Sejak meninggalkan posisi asisten manajer Arsenal pada tahun 2019, Arteta secara praktis berhadapan langsung dengan Guardiola, yang notabene adalah gurunya. Persaingan keduanya semakin intens ketika Manchester City dan Arsenal menjadi pesaing utama dalam perebutan gelar juara Liga Inggris.

Hingga kini, Arteta belum berhasil mengalahkan Guardiola, dengan dua kali finis sebagai runner-up. Musim lalu menjadi yang paling menyakitkan bagi Arsenal, karena hanya terpaut dua angka dari City di pekan terakhir klasemen.

Rivalitas ini kembali memanas pada musim 2025/2026, di mana Arsenal sempat memuncaki klasemen Liga Inggris hingga pekan ke-23, dengan keunggulan empat poin atas City. Performa stabil Arsenal sepanjang musim ini bahkan membuat Guardiola terkesan.

Rivalitas Sehat dan Hubungan Baik

Meskipun sebagian pihak menganggap persaingan ini sebagai bentuk psy war dari seorang guru kepada muridnya, Arteta tidak terlalu memusingkannya. Fokus utamanya adalah membawa Arsenal tampil sebaik mungkin di setiap pertandingan.

Bagi Arteta, Guardiola adalah sosok rival sekaligus mentor yang sangat ia hormati. Ia membandingkan rivalitas mereka dengan persaingan legendaris antara Roger Federer dan Rafael Nadal di dunia tenis, yang telah menghasilkan total 42 gelar Grand Slam.

“Bagi saya menjaga hubungan dengannya itu tidak mengejutkan. Justru jika saya menjauh maka itu jadi contoh yang buruk di olahraga ini. Di dunia olahraga, Anda harus banyak belajar dan pelajaran terbesarnya adalah sebuah hubungan, contoh Rafa Nadal dan Roger Federer,” ujar Arteta seperti dikutip dari ESPN.

Arteta menambahkan bahwa ia belum mencapai level rivalitas seperti Federer dan Nadal, namun ia ingin mencontoh bagaimana hubungan keduanya terjalin di tengah persaingan sengit.

“Saya belum mencapai level itu. Tapi salah satu rivalitas terhebat di dunia, dua atlet terhebat, bagaimana hubungan keduanya ketika sama-sama bertemu di final, saling berhadapan. Jadi bagaimana mungkin saya tidak mau menjalin hubungan baik dengan seseorang yang saya kagumi, bekas rekan kerja pula? Tapi ini juga berlaku dengan lawan lainnya. Tapi ketika di lapangan, semuanya ingin menang,” sambungnya.

Video terkait performa apik Arsenal di akhir tahun 2025 juga turut disertakan.