Jakarta – Mantan pelatih Tottenham Hotspur, Ange Postecoglou, melontarkan kritik tajam terhadap klub yang pernah dibinanya. Ia menilai Tottenham, meski memiliki fasilitas megah, belum bisa disebut sebagai klub besar karena mentalitas dan strategi transfernya. Pernyataan ini disampaikan Postecoglou dalam podcast The Overlap yang dipandu legenda Premier League seperti Gary Neville, Jamie Carragher, Roy Keane, dan Ian Wright, bertepatan dengan pemecatan manajer Thomas Frank.
Fasilitas Mewah, Skuad Biasa
Postecoglou, yang melatih Tottenham dari 2023 hingga 2025 dan berhasil mengakhiri puasa gelar 17 tahun dengan menjuarai Liga Europa pada musim 2024/25, mengakui keunggulan Tottenham dalam hal infrastruktur. “Mereka telah membangun stadion yang luar biasa, fasilitas latihan yang luar biasa, tetapi jika Anda melihat pengeluaran mereka, terutama struktur gaji mereka, mereka bukanlah klub besar,” ujar pelatih asal Australia itu.
Ia menyoroti ketidaksesuaian antara ambisi dan realisasi di bursa transfer. Postecoglou mengungkapkan keinginannya untuk merekrut pemain berpengalaman yang siap berkompetisi di Premier League, seperti Dominic Solanke, Pedro Neto, Bryan Mbeumo, Antoine Semenyo, dan Marc Guehi. Namun, klub justru memilih merekrut tiga pemain remaja.
“Bagaimana Anda bisa naik dari posisi kelima untuk benar-benar bersaing? Nah, kami harus merekrut pemain yang siap bermain di Premier League. Kami akhirnya merekrut Dominic Solanke, yang sangat saya sukai, dan tiga pemain remaja,” jelasnya. “Saya mengincar Pedro Neto dan Bryan Mbeumo, Antoine Semenyo, dan Marc Guehi. Jika mau naik ke papan atas, itulah yang dilakukan klub-klub dengan membeli pemain berpengalaman. Tapi kami cuma beli tiga pemain remaja, walau mereka punya potensi, tapi mereka belum bisa bersaing sekarang,” papar Postecoglou.
Slogan Klub Dipertanyakan
Lebih lanjut, Postecoglou menilai para petinggi Tottenham Hotspur tidak memiliki mentalitas kemenangan yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi. Slogan kebanggaan klub, ‘To Dare Is To Do’ (Berani Melakukannya), menurutnya, hanya menjadi retorika kosong.
“Di mana-mana ada moto ‘To Dare Is To Do’. Namun tindakan klub hampir merupakan antitesis dari itu,” ketusnya. Ia menegaskan bahwa untuk meraih kesuksesan, sebuah klub harus berani mengambil risiko. “Saya pikir mereka tidak menyadari, untuk benar-benar menang Anda harus mengambil beberapa risiko di beberapa titik. Kalau Tottenham menganggap diri mereka klub besar, saya rasa tidak,” pungkasnya.




